Koran Musi, Palembang – Pemerintah Kota Palembang mendorong peningkatan literasi cuaca maritim bagi nelayan melalui pelaksanaan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2026. Program yang diselenggarakan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) ini bertujuan meningkatkan pemahaman nelayan terhadap informasi cuaca sebagai salah satu dasar dalam menentukan aktivitas melaut secara aman.
Kegiatan yang digelar di Kota Palembang tersebut dibuka oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Palembang, Isnaini Madani. Program ini menjadi bagian dari upaya edukasi untuk membantu nelayan mengenali perubahan kondisi cuaca, memahami potensi risiko di perairan, serta memanfaatkan informasi meteorologi dalam mendukung keselamatan dan keberlanjutan usaha perikanan.
Dalam sambutannya, Isnaini mengapresiasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), khususnya Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, yang telah menyelenggarakan kegiatan edukasi tersebut. Apresiasi juga disampaikan kepada Dinas Perikanan Kota Palembang dan seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan SLCN 2026.
Menurut Isnaini, Sungai Musi dan wilayah perairan lainnya memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Palembang. Selain menjadi sumber pangan, sektor perikanan juga menjadi tumpuan mata pencaharian masyarakat serta bagian dari aktivitas sosial dan ekonomi di daerah tersebut.
Di sisi lain, aktivitas perikanan memiliki risiko yang berkaitan dengan perubahan kondisi cuaca. Kecepatan angin, arah angin, curah hujan, tinggi gelombang, dan kondisi perairan dapat memengaruhi keselamatan nelayan ketika menjalankan aktivitas penangkapan ikan.
Oleh karena itu, pemahaman terhadap informasi cuaca dinilai penting agar nelayan dapat mempertimbangkan kondisi perairan sebelum memutuskan untuk melaut. Informasi tersebut juga dapat membantu nelayan menyesuaikan rencana kegiatan dengan kondisi cuaca yang diperkirakan terjadi.
“Informasi mengenai kecepatan dan arah angin, tinggi gelombang, curah hujan, serta kondisi cuaca lainnya perlu menjadi pertimbangan sebelum maupun selama menjalankan aktivitas perikanan,” ujar Isnaini.
Ia berharap Sekolah Lapang Cuaca Nelayan tidak sekadar menjadi kegiatan pelatihan, tetapi juga mampu membangun kebiasaan nelayan untuk memeriksa informasi cuaca sebelum berangkat melaut.
Menurutnya, kebiasaan mengakses informasi cuaca perlu menjadi bagian dari persiapan nelayan sebelum menjalankan aktivitas perikanan. Dengan memahami informasi yang tersedia, nelayan diharapkan dapat mengenali potensi risiko dan mempertimbangkan waktu serta kegiatan penangkapan ikan secara lebih tepat.
Pemkot Palembang juga mendorong penguatan sinergi antara BMKG, Dinas Perikanan, penyuluh, dan kelompok nelayan agar informasi cuaca maritim dapat menjangkau lebih banyak masyarakat. Kolaborasi tersebut diperlukan agar informasi yang disampaikan tidak hanya tersedia, tetapi juga dipahami dan dimanfaatkan dalam pengambilan keputusan di lapangan.
Peningkatan literasi cuaca maritim diharapkan dapat memberikan manfaat bagi keselamatan kerja nelayan sekaligus mendukung produktivitas usaha perikanan. Dengan pengambilan keputusan yang mempertimbangkan informasi cuaca, risiko selama beraktivitas di perairan diharapkan dapat diantisipasi dengan lebih baik.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, S.T., M.Si., mengatakan Sungai Musi memiliki peran strategis dalam kehidupan masyarakat Sumatera Selatan, mulai dari sumber pangan hingga sarana interaksi sosial.
Bagi nelayan, sungai bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari yang menuntut pemahaman terhadap karakteristik perairan, termasuk arus dan perubahan kondisi cuaca.
Siswanto menjelaskan, dinamika cuaca dan kondisi perairan yang semakin kompleks membuat pengetahuan lokal nelayan perlu dilengkapi dengan informasi meteorologi yang akurat dan mudah dipahami.
“Melalui SLCN 2026, BMKG berupaya memperkuat pemahaman nelayan dan penyuluh perikanan agar mampu menggunakan informasi cuaca sebagai salah satu dasar dalam menentukan aktivitas melaut,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa program tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan pemanfaatan layanan informasi cuaca maritim, memperkuat kapasitas penyuluh dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat, serta mendukung keberhasilan sektor kelautan dan perikanan.
Dalam pelaksanaannya, SLCN Sumatera Selatan 2026 di Kota Palembang diikuti 35 peserta, terdiri atas 25 nelayan dan 10 penyuluh Dinas Perikanan.
Para peserta memperoleh materi mengenai informasi cuaca dan pemanfaatannya dalam kegiatan perikanan, dengan dukungan narasumber dari BMKG dan Dinas Perikanan. Materi tersebut diharapkan dapat membantu peserta memahami informasi meteorologi dan menghubungkannya dengan kebutuhan pengambilan keputusan dalam aktivitas perikanan sehari-hari.
Keterlibatan penyuluh menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan program. Pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan diharapkan dapat diteruskan kepada kelompok nelayan lainnya melalui kegiatan pendampingan dan penyuluhan, sehingga semakin banyak masyarakat memahami pentingnya informasi cuaca dalam aktivitas perikanan.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan, Dr. Wandayantolis, S.Si., M.Si., serta Pelaksana Tugas Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah II, Ana Oktavia Setiowati, S.Si.
Melalui pelaksanaan SLCN 2026, sinergi BMKG, Pemerintah Kota Palembang, dan masyarakat nelayan diharapkan semakin kuat dalam membangun sektor perikanan yang mengutamakan keselamatan, meningkatkan produktivitas, dan berkelanjutan.
Peningkatan pemahaman terhadap cuaca maritim menjadi salah satu langkah untuk mendukung nelayan dalam menghadapi perubahan kondisi perairan. Dengan dukungan informasi meteorologi yang mudah dipahami serta kerja sama antarpihak, upaya membangun aktivitas perikanan yang lebih aman dan berkelanjutan di Kota Palembang diharapkan dapat terus diperkuat.










Komentar