Koran Musi, Palembang – Peristiwa ngamuknya 132 penumpang Kereta Api Sindang Marga relasi Lubuk Linggau – Ketapati yang seharusnya turun di Stasiun Prabumulih, justru diturunkan di Stasiun berikutnya yang cukup jauh jaraknya, mendapat sorotan tajam dari masyarakat.
Dr. H. M Antoni Toha, SH., MH., AIIArb, salah satu tokoh masyarakat Sumsel sangat menyayangkan tentang pelayanan PT KAI terhadap pengangkutan orang di Divre III khususnya di Palembang, masih sangat jauh dari kata memuaskan.
“Jadi berdasar UU Nomor 23 Tahun 2007 perubahan atas UU Nonmor 13 Tahun 1992 tentang Perkeretapian yang mengatur segala aspek mulai dari sarana, prasarana dan sumber daya manusia, tanggungjawab serta hak dan kewajiban pengelola, pemakai jasa dan masyarakat disekitarnya, khusus di Divre III ini masih jauh tertinggal dari Pulau Jawa,” ujar pria yang juga seorang Advokat senior di Sumsel ini, Jumat 22 Agustus 2025.
Lebih lanjut Antoni Toha menambahkan, Divre III ini sebenarnya memiliki potensi besar untuk lebih maju karena punya pemasukan tertinggi dengan mengelola angkutan komoditi batubara dengan proyeknya angkutan Batubara Rangkaian Panjang (Baba Ranjang) yang mengangkut jutaan matrixton batubara setiap tahunnya.
“Tapi apa fakta di lapangan? Jalur kereta api di wilayah Sumsel menjadi biang kemacetan. Okelah sudah ada double track, tapi itu masih belum menyelesaikan masalah kemacetan di jalanan yang dilalui rel kereta api atau pintu rel,” lanjutnya.
Pembangunan jalan layang atau fly over, imbuhnya akan menjadi solusi di tiap persilangan jalur rel kereta api dengan jalan raya. Hal tersebut akan jauh mengurangi kemacetan dan resiko kecelakaan akibat perlintasan kereta api yang semrawut tersebut.
“Belum lagi gerbong penumpang yang tidak nyaman, kurangnya armada gerbong penumpang, banyak lagi hal yg memprihatinkan. Kami minta kepada Pimpinan PT KAI pusat untuk lebih memperhatikan sarana dan parasana di Divre III layaknya kereta api di Pulau Jawa,” ujar Antoni Toha.
“Bila perlu pegawai diberi bonus akhir tahun yang signifikan agar semangat kerjanya maksimal. Hal ini sudah sangat wajar karena keuntungan PT KAI dari Divre ini seharusnya sudah dapat meningkatkan kinerja dan fasiltas yang jauh lebih baik,” lanjutnya.











Komentar