Koran Musi, Palembang – Belum cairnyo insentif untuk guru honor di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), membuat Komisi V DPRD Provinsi Sumsel datangi Kementerian Dalam Negeri di Jakarta dan diterimo Slamet Endrato selaku Kasubdit Wilayah 1 Otda Kemendagri dan Maya Restu Sari selaku Analis Bina Keuangan Daerah Kemendagri, Kamis (10/6/2021).
Rombongan Komisi V DPRD Sumsel dipimpin Ketuo Komisi V DPRD Sumsel Susanto Adjis dan Wakil Ketuo Komisi V DPRD Sumsel Mgs Syaiful Padli.
Menurut Wakil Ketuo Komisi V DPRD Sumsel Mgs Syaiful Padli, Peraturan Gubernur (Pergub) Sumsel tentang insentif guru honor Sumsel yang ditunggu masih dalam kajian Bina Keuangan Daerah Kemendagri.
“Mengingat dalam pembuatan Pergub harus difasilitasi Kementerian Dalam Negeri dan total Kabupaten/kota difasilitasi Pemerintah Provinsi,” katonyo.
Dalam Undang-Undang (UU) Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, pada bagian keduo di Pasal 15 bahwa untuk guru yang diangkat oleh kepala satuan pendidikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dapat diberikan maslahat tambahan dalam hal ini insentif.
“Jumlah Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) honorer di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel mencapai 14.174 wong yang terdiri dari 9.940 guru honorer dan 4.234 pegawai honorer. Kalu dibandingke samo jumlah PNS yaitu 8.066 guru PNS dan 672 pegawai PNS di sekolah, perbandingannyo sangat idak seimbang,” uji Syaiful Padli.
Berdasarke Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), jumlah SMA Negeri ado 327 sekolah, jumlah SMK Negeri ado 116 sekolah dan jumlah SLB Negeri ado 14 sekolah.
Sedangke untuk jumlah peserta didik jenjang SMA Negeri ado 156.651, jumlah peserta didik jenjang SMK Negeri ado 71.095 dan untuk jumlah peserta didik SLB Negeri ado 1.641.
“Jadi total sekolah negeri di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel sebanyak 457 sekolah dengan 229.387 peserta didik. Sebagian yang mengabdi dan berjuang untuk majuke peserta didik di sekolah itu adalah PTK honorer,” katonyo.
Jadi menurut Syaiful Padli, berdasarke hasil diskusi dengan Kemendagri soal rancangan Pergub insentif PTK Honorer ini terkendala di penamaannyo kareno duplikasi dengan peraturan di Kemdikbud.
“Jadi pacak diajuke pilihan untuk mengubah namonyo dari insentif jadi maslahat tambahan sesuai UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Tapi dari hasil diskusi, kareno beda sumber dana seharusnyo idak jadi masalah kalu namonyo tetap insentif,” jelasnyo. (dp)










Komentar